Banner

Rabu, 11 Mei 2016

Trip Penang-Hatyai (Part 2)

Lanjut dari Trip Penang-Hatyai (Part 1) nih. Nah untuk di Hatyai, gue book hotel Red Planet dengan harga 300ribu (without breakfast). Hotelnya lumayan besar, dekat dengan Lee Garden (pusatnya) cuma jalan kaki 5-10 menit, dan waktu kita datang keadaan lobbynya ramai (banget). Sampai di Hotel gue coba minta ke front office biar dibolehin early check in, tapi ternyata kamarnya benar full semua waktu itu jadi gak bisa early check in, tapi disini disediakan tempat untuk penitipan barang. Jadi kita mutusin untuk nitip barang dan bawa seperlunya. Di pintu masuk hotel ini, ada penjual jasa one day tour dengan mobil (Sedan Honda City) plus supirnya. Harga awalnya dia kasih THB1800, kita coba tawar dan mentoknya dia kasih THB1500. Karena memang awalnya kita niat tournya pakai Tuk-Tuk (kendaraan khas Thailand, mirip sama angkot pintu belakang kalau di kota Medan), jadi kita jalan kaki ke arah Lee Garden sambil nawar harga tuk-tuk untuk dipakai one day tour. Menawar disini pun harus pintar-pintar. Dulu nyokap pernah dapat Tuk-Tuk harga sewanya THB600, tapi kalau sekarang mereka rata-rata buka harga THB1300. Kalau dipikir-pikir kalau kena harga segitu dari pada naik Tuk-Tuk mending rental mobil yang ada di hotel. Akhirnya dapatlah Tuk-Tuk dengan harga THB800, tapi baru berangkat dia udah cancel karena ada keluarganya yang meninggal dan kita diantar balik ke tempat awal berangkat tadi. Karena udah menyerah dengan Tuk-Tuk dan keadaan pun panas, akhirnya kita memutuskan untuk rental mobil dari hotel.

Rental mobil sebenernya jauh lebih nyaman, pastinya gak bakal panas dan kalau kecapekan kita bisa manfaatin waktu di perjalanan untuk tidur. Meskipun nyaman tetap ada minusnya. Penyakitnya masyarakat sini cuma segelintir yang bisa bahasa Inggris, sementara tulisan-tulisan yang terpampang sepanjang jalan pun gak dibarengi dengan bahasa Inggrisnya, otomatis gak ngertilah. Dan setiap kali ambil one day tour gini gue selalu dapat supir yang gak ngerti bahasa Inggris kalau bosnya sih bisa bahasa Inggris, pusing komunikasinya kalau cuma mengandalkan anggukan sama gerak-gerik. Sebelum berangkat, kita bakal di tunjukin gambar dari tempat-tempat yang bakal kita kunjungin, waktu itu ada beberapa tempat yang gue skip karena menurut gue kurang menarik dan demi menghemat waktu supaya di floating market nanti bisa lama.

Mulailah kita dari kawasan temple, dipintu masuknya ada beberapa orang yang nawarin jasa foto langsung jadi beserta framenya. Buat yang pertama kali kesini bolehlah jasa ini dibeli untuk pajangan di rumah. Harga 1 foto + frame THB100. Puas foto-foto, kita lanjut perjalanan ke tempat kedua sekitar 5-10 menit menanjak ke atas nama tempatnya Municipal Park. Di Municipal Park ini juga ada kuil, ada patung besar Wat Hat Yai Nai dan ada cable car/kereta gantung. Tapi, sebelum keluar mobil si supir saranin ke kami supaya gak naik cable carnya karena gak safety lagian waktu itu juga lagi banyak banget angin. Memang sih jalur cable carnya gak terlalu jauh, tapi demi keamanan kita mutusin untuk gak naik si cable car ini. Dari atas ketinggian disini kita bisa ngelihat kota Hatyai. Karena tadi gak jadi naik cable car, saat perjalanan balik si supir mampirin ke bangunan/terminal seberangnya si cable car.

Puas foto-foto di cable car, kita lanjut jalan ke tempat ketiga yaitu Sleeping Budha. Disini yang mau dilihat cuma patung besar sleeping budha. Agak jalan ke belakang langsung ketemu laut dengan pemandangan jembatan. Teriknya matahari membuat kita kurang mau berlama-lama di tempat ini.

Stelah itu lanjut perjalanan sekitar 30 menit ke tempat keempat, Kereta monorail. Ini seperti kereta monorail yang ada di Penang hill hanya saja jarak tempuh kereta ini lebih dekat dan daya tampungnya lebih sedikit. Harga tiket masuk per orang THB30. Di atas luas tapi gak ada kegiatan seperti pertunjukan, tetapi di atas ini banyak spot foto juga, Selain itu dari atas ini kita juga bisa ngelihat kota Hatyai. Yang menarik di sekitar pintu masuk tempat ini ada banyak penjual Es Krim Kelapa. Harga es krim ini THB30. Es krim ini merupakan campuran dari es krim, Kelapa muda, Ubi manis, pulut, roti tawar, kacang, susu kental manis, semuanya dicampur dan makannya langsung dari batok kelapa muda. Dan sebagai peringatan, di pintu masuk tempat ini banyak sekali monyet yang hidup liar. Memang tidak menggangu, tapi yang namanya hewan begitu ada orang yang membawa makanan pasti akan di datangi. Jadi, sambil makan es krim sambil hati-hati dan terus lihat sekitar mana tau tiba-tiba monyet udah ada di samping.

Menjelang sore kita lanjutkan perjalanan ke tempat kelima, Songkhala. Jadi disini itu ada patung naga besar yang dari mulutnya keluar air ke danau, hampir kayak patung singa di Merion Singapura. Disini gak terlalu ramai dan panas, jadi kita gak berlama dan langsung lanjut ke tempat keenam, Samila Beach.

Perjalanan ke Samila Beach ini sekitar 20 menit dari Songkhala. Di pinggir pantai Samila ini ada patung putri duyung yang ramai banget. Orang yang datang ke tempat rasanya gak afdol kalau belum foto di patung ini. Di pantai ini gak ada kegiatan-kegiatan olahraga pantai seperti paralayang atau lainnya, bahkan gak ada orang yang berenang di pantai. Di pinggir pantai ini pasirnya gak terlalu halus, banyak pecahan halus dari karang dan kerang yang tajam, jadi harus hati-hati. Disini banyak penjual makanan seperti sosis, bakso, udang dan penjual souvenir. Hanya saja disini harga souvenirnya masih sedikit lebih mahal. Mis, 1 dompet-dompet kecil (untuk powerbank) yang isinya 4 atau 5 buah, harganya THB100. Kalau beli 2 jadi THB190. Di tempat lain mungkin bisa dapat lebih murah. Jadi waktu itu kita memutuskan hanya mencoba makanan dan tidak membeli souvenir dari sini.

Puas dari Samila Beach lanjut perjalanan ke tempat ketujuh, tempat terakhir, Khlong Hae Floating Market. Sama kayak Floating Market yang ada di Bandung disini juga penjual menjual makanannya dari atas perahu. Bedanya kawasan floating market ini lebih luas dan selain penjual makanan disini juga penuh dengan penjual berbagai jenis souvenir, pakaian, tas, dan oleh-oleh lainnya. FYI, yang mau membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang, di floating market ini bisa jadi salah satu tempatnya. Barang disini lebih variatif dan lebih murah. Untuk harga jangan ragu untuk nawar, karena bisa jadi kita dapat harga murah. Waktu itu kita sampai borong beberapa tas, baju sama celana, tapi kita gak beli souvenir tas-tas kecil itu disini karena harganya sama kayak di Samila Beach tadi.

Sekitar jam 7 malam, kita cabut dari floating market dan kembali ke Red Planet Hotel. Dari Floating market sampai ke hotel udah gak terlalu jauh lagi, cuma 15-20 menit doang. Sampai hotel kita langsung urus check in, dan check in disini gak perlu pakai uang deposito. Kamar yang kita dapat sesuai dengan yang gue book, double bed, kamarnya luas (jauh lebih luas dari Heliconia Hotel) tapi kamar mandinya lebih kecil dari hotel sebelumnya, and no smoking room. Selesai beberes dan mandi, kita langsung keluar lagi jalan ke arah Lee Garden. Di pinggiran Lee Garden ini juga banyak banget penjual souvenir, tapi tetap kita harus pintar-pintar tawar dan cari harga yang pas nancep di kantong. Malam itu setelah nanya dan mampir ke beberapa tempat, akhirnya kita menemukan penjual pinggir jalan yang tokonya ramai karena harga barangnya murah, banyak jenisnya dan penjualnya ramah. Dompet-dompet itu disini dapat THB80 per 1 bungkus (yang besar isi 2/3, sedang isi 4, kecil isi 5), itu lumayan banget buat di bagi-bagiin jadi oleh-oleh ke kerabat. Ada juga gantungan kunci, magnet kulkas, pulpen, gantungan, sama souvenir lainnya. Kelar keliling malam, kita balik ke hotel untuk packing.

Minggu pagi, kita bakal dijemput di hotel jam 9 pagi. Setelah check out dan sebelum dijemput kita jalan di sekitar hotel cari makan untuk sarapan. Kita berniat untuk makan nasi pagi ini, dan akhirnya kita makan di restoran ayam packing. Kita pesan 1 porsi ayam packing dan 1 porsi babi packing, minumnya teh cina/teh pahit. Total harganya sih lupa, tapi makanannya enak. Kenyang makan, kita balik ke hotel untuk di jemput travel yang udah kita pesan dari Penang kemarin. Mobil travel datangnya ontime, dan kita sampai di penang sekitar jam 3 sore waktu Penang. Flight pulang, kita ambil penerbangan yang paling malam biar bisa santai dan gak dikejar-kejar waktu. Jadi sisa waktu sore, kita habiskan di Mall Komtar untuk makan dan keliling mal. Sekitar jam 6 sore kami kembali ke terminal komtar, naik bus Rapid Penang nomor 401E untuk ke Bandara. Pesawat Air Asia yang kami tumpangi untuk pulang berangkat on time dan sampai jam 9 malam juga di Medan.




Trip Penang-Hatyai (Part 1)

Haloo, dih udah lama banget ya gue gak nulis. Kali ini gue mau share tentang travel gue 1 bulan lalu yang kebetulan pada saat itu posisi gue lagi mudik ke Medan, dan orang tua mendadak nyeletuk ngajakin travel. Waktu itu kita pergi ke Penang-Malaysia lanjut ke Hatyai-Thailand dan kita pergi berempat (bonyok+adek bontot+gue) selama 3 hari 4 malam. Sebenernya ini udah yang ketiga kalinya kesini, tapi tetep aja ya gak bosan habisnya kotanya cantik sih. Selain itu, Penang itu jarak tempuhnya dekat dan harga tiket ke Penang masih tergolong murah (kalau beruntung kita bisa dapat harga 150ribuan dari Medan). Travel kali ini sebenernya bisa di bilang campuran budget travel plus family travel. Budget Travel, karena kita sebisa mungkin kemana pun naik kendaraan umum ditambah jalan kaki, makanya barang yang kita bawa juga gak banyak. Berangkat berempat ya barang juga cuma 4 ransel, udah kayak backpackeran :)

Okeh, mulai dari tiket. Waktu itu gue mulai search dan beli tiket dari 2 minggu sebelum berangkat. Setelah nemu hari yang pas dan dipikir dari segala sudut, kita putusin pergi pulang pakai masakapai Air Asia dengan harga tiket 350ribuan per orang per flight jadi pergi pulang kalau di total kena 700ribuan per orang (agak mahal ya sebenarnya padahal perginya weekdays loh hari Kamis). Kita ambil penerbangan yang berangkat dari Medan jam 16:30 biar sampai Penang gak kemalaman, tapi ternyata pesawat berangkatnya kena delay kurang lebih 1 jam dan jadilah kami sampai malam di penang (sekitaran jam 20:00). Dari Bandara Penang kita lanjut ke hotel yang gue book di daerah Georgetown dekat dengan Komtar. Tempat nunggu busnya gak jauh kok dari pintu keluar kedatangan bandara. Jadi gak terlalu susah nyarinya. Tapi, FYI, busnya gak 24 jam. Jadi kalau malam banget opsi ya cuma naik taksi. Waktu itu kita masih beruntung, karena Rapid Penang yang kita naikin itu katanya bus terakhir. Gue sih gak pernah naik taksi dari Bandara ke Komtar, tapi dari info sih katanya bisa kena RM50. Kalau naik bus dari Bandara ke terminal Komtar (Komplek Tun Abdul Razak) naik Rapid Penang nomor 401E dengan harga RM2,7 dewasa dan anak-anak RM1,54 (kita harus bilang sama anak-anak, kalau gak bilang nanti dikasih harga dewasa, kan lumayan selisih riggitnya) dengan perjalanan sekitar 1 jam. TIPS, bawa uang pas ya karena tuh supir gak bakal punya kembalian. Jadi, sambil nunggu-nunggu bus datang, bisa tuh dihitung dan disiapin total ongkos ntar berapa.

Untuk hotel udah gue book dari Indonesia lewat travel online yang sama dengan waktu gue beli tiket. Honestly, ini pertama kalinya gue pesan hotel via online yang awalnya gak yakin tapi karena pasti harganya bakal lebih mahal kalau beli on the spot dan untuk make sure bakal dapat kamar (karena pesawat kita sampainya malam), jadilah pesan hotel dari Indonesia. Setelah cari info dari segala web, nimbang-nimbang harga, drama sana sini, dan nimbang-nimbang lokasi, akhirnya pilihan nginap di Penang jatuh ke Hotel Heliconia di daerah Georgetown yang kayakya sih bintang 2 atau bintang 3 dengan harga 300ribuan per malam (without breakfast). Sebenernya di Penang banyak banget hotel yang murah (banget), dari hotel yang kayak asrama (1 kamar bisa 4/6/8 orang) sampai ke hotel berbintang. Kenapa Heliconia Hotel? Pertama, itu hotel baru dan dari beberapa review yang ada di web rata-rata ngasih komentar yang bagus, kedua, dekat dengan komtar jadi bisa jalan kaki cuma 5 menit. Malah sebenarnya kalau kita naik Rapid Penang (mis habis dari mana gitu) mau balik ke hotel gak perlu turun di Komtar kita bisa turun di jalan McCallister (turun di depan gang dekat lampu merah yang dekat komtar terus tinggal jalan kaki sebentar paling cuma 1 menit), ketiga, dekat hotel banyak tempat makan (jl. McCallister) terutama yang mau kulineran malam, dan keempat dan terpenting, berhubung gue pergi sama orang tua yang notabanenya bokap gak terlalu suka hotel yang jorok karena doi punya sinus, jadi gue menyesuaikan kondisi dengan tidak gambling untuk ambil hotel murah tapi ntar malah jadi masalah sama bokap gue.

Sampailah kita di Komtar. Gue cuma modal peta, dan gak tau ini hotel letaknya dimana. Setelah tanya sana-sini, ternyata banyak yang gak tau ada hotel ini (mungkin karena masih tergolong baru jadi orang banyak yang belum tau). Akhirnya, setelah masuk gang-gang gelap yang mungkin kalau siang disini bakal ramai, kami nemu hotel ini. Dan ternyata kunci yang gampang untuk nemuin hotel ini yaitu cari Hotel Sentral Georgetown, karena Hotel Heliconia tepat disebelah hotel itu. Hotel Sentral Georgetown gedungnya tinggi, sebenarnya dari jauh (bahkan dari Komtar) kami udah ngelihat hotel ini dan hotel ini udah pasti banyak orang yang tau.

Sampai di hotel, yang pertama gue dengar dan sadarin adalah kayaknya di sekitar hotel ini banyak tempat dugem atau mungkin lagi ada pesta atau apalah itu, soalnya lumayan banyak kedengaran suara musik keras sejenis EDM gitu (dan ternyata masih kedengaran sampai ke kamar meskipun samar banget). Gue sama papa langsung check in, sementara mama sama adek gue nunggu di bawah. Sebenernya ini agak tricky ya. Jadi, walaupun kita perginya berempat gue pesan cuma pesan 1 kamar standard doang, baik itu hotel di Penang ataupun hotel di Hatyai nanti. Cara ngakalinnya biar semua bisa masuk dan gak kena cas, masuknya berdua-dua. Karena gue yang bisa bahasa inggris dan hotel di pesan atas nama papa akhirnya gue sama papa yang checkin. Habis itu, nomor kamarnya tinggal ngabarin ke mama biar mereka nyusul masuk kamar selang beberapa menit setelah kami masuk. Selama ini sih kalau travel, kami selalu pesan hotel begini selain untuk menghemat biaya, sayang juga rasanya kalau pesan hotel banyak gitu, soalnya kan di hotel paling cuma malam doang. Pagi melek terus sarapan cus jalan-jalan, balik lagi udah malam kadang tengah malam malah. Mungkin ini bisa tips untuk para budget traveller yang kurang berkenan pakai hotel murah tapi gak mau budget habis.

Petugas front office hotel ini ramah, dia speak English well. Sediakan uang RM50, karena waktu check ini kita harus kasih uang untuk deposit dan dikembalikan waktu check out nanti. Waktu itu room yang gue book udah keisi jadi dia upgrade kamar kita tanpa tambahan biaya dan prosesnya cepat kok. Gak berapa lama kita langsung dikasih nomor kamar. Kamarnya lumayan kecil tapi kamar mandinya luas, tempat tidurnya nyaman dan kamarnya bersih minusnya sih kamarnya agak bau pengap sama suara musik dari luar masih kedengaran samar-samar. Malam pertama gak mau kita sia-siakan cuma di kamar aja, jadi habis dapat nomor kamar, selesai mandi dan beberes dengan barang masing-masing, kita keluar untuk icip-icip kuliner malam di Jl. McCallister. Tapi sayangnya karena udah kemalaman mungkin ya jadi udah mulai pada tutup, tapi tetap kok masih ada yang bisa di kulinerin.

Jumat pagi, hari pertama, kita rencana mau ngunjungi Penang Hill-Kek Lok Si Temple-Batu Ferringhi Beach. Sambil jalan mau ke terminal Komtar kita cari-cari sarapan. Ketemulah yang jual nasi Kandar. Nasi Kandar ini makanan India tapi khas Penang jadi banyak dijual di toko-toko pinggir jalan. Kita pesan Nasi kandar lauk ayam, roti bakar+telur semuanya RM11. Dari terminal Komtar ke Penang Hill naik Rapid Penang nomor 204 dengan harga RM2 untuk dewasa dan 1RM untuk anak-anak. FYI, busnya agak lama datang jadi harus sabar nunggunya ya. Perjalanan menuju Penang Hill sekitar 45 menit. Bus akan melewati Pasar Ar Itam (Kek Lok Si Temple), dan sekitar 5-10 menit dari Kek Lok Si sampailah di Penang Hill (Tujuan Akhir). Harga tiket masuk Penang Hill Bukit Bendera RM30 (harga untuk pelancong/tourist). Disini kita bakal naik kereta monorail yang miring banget sekitar 10-15 menit menuju ke Bukit Bendera. Di atas ternyata luas banget. Yang mau ngelihat kota Penang dengan lebih jelas, disini ada disediakan teropong tapi harus bayar 1 ringgit juga per berapa menit gitu. Disini juga ada pertunjukan beberapa hewan, ada museum burung hantu, terus disini ada disewakan mobil listrik untuk keliling dan berhenti di spot-spot foto. Harga sewa mobilnya RM50 dengan kapasitas 5-7 orang. Di pintu keluar ada banyak penjual souvenir disini.

Dari Penang Hill, naik Rapid Penang nomor 203/204 ke Kek Lok Si Temple. Dari beberapa info sih katanya bisa jalan kaki, tapi karena waktu kesana lagi terik banget jadinya ita memilih untuk nasih bus. Ongkosnya RM1,4. Sebenarnya Kek Lok Si Temple itu one way, jadi kalau mau ke Penang Hill busnya bakal lewat dari Kek LOk Si, tapi kalau dari Penang Hill ke Kek Lok Si, harus jalan kaki lagi sekitar 5 menit (kita turun bus di simpang jalan gitu, nanti dari situ jalan kaki sekitar 5 menit). Jadi Untuk saran, seharusnya ngunjungin Kek Lok Si Temple dulu baru ke Penang Hill. DI paling atas Kek Lok Si ini ada patung Dewi Kuang In (yang katanya terbesar se-Asia), sangking besarnya dari jauh udah kelihatan. Untuk bisa masuk ke temple ini kita harus naik banyak anak tangga. GUe sih gak ngitung anak tangganya berapa, tapi lumayan makan tenaga dan nafas. Untungnya di sepanjang anak tangga itu banyak banget yang jual souvenir dan FYI, souvenir disini lumayan lengkap dan harga souvenir disini lebih murah dibanding di Penang Hill (sebenernya mungkin disini yang paling murah dari tempat lain) dan sambil naik tangga boleh banget tuh buat berhenti, tanya-tanya harga sekalian borong. Di tengah jalan naik ada kolam kura-kura/penyu, di sekitarnya ada yang jual makanan untuk hewan ini. Terus, seperti di kuil-kuil lainnya banyak patung-patung di sepanjang jalan dengan hiasan warna-warni di sekitar kuil. Kita sih gak sampai ke puncak Kek Lok Si (yang ada patung Kuang In), orang tua gue gak sanggup katanya kalau sampai atas lagian kondisi matahari lagi terik banget. Jadilah kita cuma setegah jalan. Di dekat Kek Lok Si Temple banyak banget yang jual makanan, dan pilihan kita jatuh ke penjual Nasi Hainam. 1 porsi nasi Hainam: RM5.

Setelah dari Kek Lok Si kita lanjut perjalanan ke Komtar naik Rapid Penang nomor 204/204. Di Komtar kita mampir ke toko travel untuk beli tiket bus travel ke Hatyai. Jangan ragu untuk tanya ke setiap toko travel ya, soalnya harga di tiap toko travel berbeda. Waktu itu ada salah satu toko yang ngasih harga PP RM90. dari beberapa toko yang kita tanya akhirnya kita dapat harga ongkos Penang-Hatyai PP RM75 per orang.  Kata pihak travelnya ongkos dari Hatyai ke Penang yang lebih mahal. Kalau kita beli tiet pergi dan pulang pisah-pisah (pergi beli dari Penang pulang beli dari Hatyai) malah lebih mahal harganya malah beda harganya lumayan jauh loh. Untuk jam berangkat tergantung dari travel masing-masing. Kita milih untuk berangkat jam 5 pagi.

Habis urusan tiket kelar, kita lanjut perjalanan ke Batu Ferringhi Beach. Dari Komtar naik Rapid Penang nomor 101 atau 103 (agak lupa. hehe) harga ongkosnya RM2,7. Perjalanan agak jauh, jalannya tanjakan kayak kita mau naik ke puncak, cuma bedanya disini kiri kanannya banyak pantai. Kami sampai disini masih sekitar jam 3 sore, dan masih terik banget. Waktu baru sampai pantainya masih sepi, sekitar 1 jam kemudian barulah banyak aktifitas pantainya. Disini sih hampir kayak di Panti Kuta Bali bedanya kalau di Pantai Kuta banyak orang yang surfing di pantainya sementara disini gak, selain itu disini gak seramai di Pantai Kuta. Disini juga ada jasa kepang rambut kayak di Bali terus adek gue mintalah supaya rambutnya dikepang, harganya RM50 (mahal ya). Dulu asal gue kesini gak pernah dapat sunsetnya, nah sekali ini kita kesini emang untuk ngejar sunsetnya yang cakep itu. Kelar dari Pantai Batu Ferringhi, kita balik ke hotel. Sebenernya malam ini kita mau ke Gurney, soalnya kalau malam ada banyak stand makanan dan Gurney itu bisa dibilang ada di pinggir pantai juga. Tapi karena udah pada capek dan malam ini juga harus beberes karena besok subuh udah harus check out, akhirnya kita malam itu memutuskan untuk kulineran lagi di dekat hotel cuma sekali ini berangkatnya gak kemalaman.

Sabtu pagi subuh, hari kedua, setelah kita check out dan udah ngambil uang deposit, sesuai perjanjian jam 5 pagi kita udah dijemput travel di hotel. Perjalanan ke Hatyai Sekitar 4-5jam dan di Hatyai kita langsung diantar ke tempat tujuan/hotel. Di sepanjang jalan kita harus mampir ke kantor-kantor imigrasi untuk laporan passport dan mengisi beberapa data.

Perjalanan di Hatyai to be continue ke part 2 ya.....

Rabu, 18 Maret 2015

Diet Mayo: Menu and Review (Part 2)

Yap, lanjutan dari Diet Mayo: MENU AND REVIEW (PART 1) yang sudah ngebahas sampai hari ke-7, di part 2 ini gue bakal review hari ke-8 sampai hari ke-13.

Day 8:
Menu day 8
Menu ala Chiel:
Pagi: Teh tawar (tanpa gula)
Siang: Sayur bayam 1 ikat rebus, tomat, 2 butir telur rebus
Malam: Bistik rebus (1 ons), selada, lemon

Day 9:
Menu day 9
Menu ala Chiel:
Pagi: Teh tawar (tanpa gula)
Siang: Bistik rebus (1 ons), selada, lemon, 1 buah pear
Malam: 1,5 ons paha ayam rebus, 1 buah pisang

Day 10:
Menu day 10
Menu ala Chiel:
Pagi: Teh tawar (tanpa gula)
Siang: 2 butir telur rebus, 1 ikat sayur bayam rebus, 1 buah tomat di jus, 1 buah naga merah
Malam: 1,6 ons dada ayam rebus, selada ditaburi lemon

Day 11:
Menu day 11
Menu ala Chiel:
Pagi: Teh tawar (tanpa gula)
Siang: 1 butir telur rebus, 1 buah wortel rebus
Malam: pepaya diperasin jeruk lemon

Day 12:

Menu day 12
Menu ala Chiel:
Pagi: 1 botol just wortel (1 wortel besar di jus)
Siang: 1,5 ons dada ayam rebus
Malam: 1,3 ons bistik rebus, selada ditaburi lemon

Day 13 (sabtu):
Menu ala Chiel:
Pagi: Teh manis (pakai gula tropicana sedikit) + Roti tawar 1 lembar
Siang: 1,6 ons ayam rebus, selada
Malam: 2 butir telur rebus, 1 buah kentang direbus

Pengalaman gue:
Hari pertama memang berat dan itu pasti!! Everyone will say that. Lidah susah nerima makanannya, perut belum terbiasa jadi kalau siang atau malam pasti lapar lagi, lemas juga bawaannya karena yang masuk sedikit banget plus banyak banget godaannya. Tapi, begitu masuk ke hari 3 lidah sudah biasa perut pun begitu. Paling berat itu kalau hari sabtu apalagi kalau minggu. You know, weekend is the day for fun, for hang out with friends and many more to do. hahaha. Tapi disitulah tantangannya. Sabtu pagi gue tetap masih ikut olahraga hip hop dance dan minggu gue tetap biasa keluar jalan dan pas makan gue cuma pesan minum aqua doang dan dapat bonus diledekin. Okeh!

Masuk minggu kedua, udah mulai bosan sama menu makanan yang sebenernya itu-itu aja, lidah juga udah mulai pahit, di kantor juga udah makin banyak godaan (waktu itu ada yang bawa ayam betutu coy, hampir batal) dan udah mulai kepikiran buat nyerah. Tapi nyokap marah-marah bilang tanggung, jangan nyerah. Jadilah gue tetap ngelanjutin sampai hari ke-13. Kalau udah mau dekat-dekat hari terakhir itu udah gak berasa lagi. Rasanya udah kayak makan siang biasa. Kayak lagi gak diet, padahal kawan di kantor pada "enggak deh" gitu ngelihat makan siang gue yang bentuknya abstrak dan super dikit.

Dari semua menu, yang paling gue gak suka kalau ada menu pakai tomat sama menu yang ada wortelnya. I really really don't like them. Setiap ada menu-menu itu selalu gue coba akalin biar bisa kemakan (di jus) tapi tetap aja cuma sedikit yang gue maka, sisanya terbuang, syedih.

Hari paling "surga" itu kalau ketemu menu yang ada buahnya. Buah udah jelas dong ada rasanya manisnya gitu. Wahh, rasanya itu ya, buahnya pengen ditambah 1 lagi (jatah kan cuma 1 doang).

Like i said before, sebelum memulai mayo ini gue gak ada nimbang-nimbang bb dan selama diet mayo pun gue gak ada pantau bb udah berapa. But....kalau ditanya kurang gak bbnya? berhasil gak? sukses gak? I will say YESS. I don't know how to convince you, but i can fell it.

Saran:
1. Dari semua review yang gue baca, semuanya nyuruh untuk minum sebanyak-banyaknya yang lo danggup, dan gue pun akan menyarankan seperti itu. Minumlah sebanyak mungkin yang lo bisa, yey.

2. Waktu lo beli buah, pilihlah buah yang agak besar. Di menu sih untuk buah gak ditakarin harus yang beratnya berapa. Seperti yang gue bilang tadi, buah itu ibarat "surga" dalam dunia "permayoan" ini. jadi jangan sampai lo menyesal karena pemilihan yang salah.

3. Kalau mau memulai diet mayo ini, lihat-lihat tanggal atau agenda lo ya. Jangan sampai lo diet pas udah masuk masa Natal. Kan bakalan banyak tuh undangan Natal disana sini. Atau jangan sampai lo pilih tanggal waktu musim nikah atau waktu teman lo nikah. Kan gak iya, teman dekat ngundang terus lo gak datang alasannya karena "Maaf sis, gue lagi diet mayo nih". Jadi, make sure dulu, hari, tanggal, bulan dan tahunnya udah pas.

Sukses untuk yang lagi ngejalanin si mayo ini yesss. 

Jumat, 13 Maret 2015

Diet Mayo: Menu and Review (Part 1)

Hai ~ ~ ~ hallooo ~ ~ ~
Setelah beberapa lama yang lalu gue sempat memposting menu-menu diet mayo di akun IG gue, orang-orang pada nanya itu apa? menunya apa aja? siangnya makan apa? malamnya gimana? sarapannya itu doang? enak gak? FYI, diet mayo sih singkatnya diet garam dan karbo selama 13 hari! So, simpulkan sendiri rasanya gimana ya :)

Jadi ceritanya, ada teman gue yang kayaknya makin, yahhh, berkurang lah bobot tubuhnya. Terus gue tanya dong sama doi, dan ternyata dia ngejalanin diet mayo. Gue yang punya masalah sedikit dengan masalah ini (gak berani nyebut), langsung tertantang juga pengen nyoba si mayo ini. Anyway, seingat gue dulu nyokap pernah ikutan diet ini, dan gue yang pada saat itu masih remaja (masih sekolah) pernah nyobaan menu bayamnya dia dan rasanya, eyuhh. Gue meyakinkan diri pada saat itu juga gak bakal nyobain diet ini. Ehh, taunya sekarang di coba juga. haha. Nice, yess!

Nah, gue googlinglah menunya apa aja dan dari sekian banyak varian menu yang ada gue memilih menu yang satu ini (pinjam gambarnya ya om).

Diet Mayo Menu
Gue dari awal tidak membuat perbandingan. Sebelum diet ini gue gak ada nimbang, karena di mindset gue, gue diet untuk sehat aja, bukan untuk ngurangin berat badan. Toh diet mayo intinya ngurangin asupan garam. Lagian ditempat gue gak ada timbangan. haha. Anyway, semua menu pure gue masak sendiri, seadanya dengan alat yang terbatas. Orang-orang pada nanya, ngapain sih lo capek-capek masak sementara udah banyak catering mayo dimana mana. Sebenernya pengen catering sih, but i think better cooked by yourself. The quantity of food can be better controlled, guaranted free of salt dan of course yesss saving money. Anyway, time to review.

Day 1 (Senin)
Menu day 1
Menu ala Chiel:
Pagi: Teh tawar (tanpa gula)
Siang: Sayur bayam 1 ikat rebus, tomat, 2 butir telur rebus
Malam: Bistik rebus (1 ons), selada, lemon

Day 2:
Menu day 2
Menu ala Chiel:
Pagi: Teh tawar (tanpa gula)
Siang: Bistik rebus (1 ons), selada, lemon, 1 buah naga merah
Malam: 1,7 ons ayam rebus, 1 buah pisang

Day 3:
Menu day 3
Menu ala Chiel:
Pagi: Teh tawar (tanpa gula)
Siang: 2 butir telur rebus, 1 ikat sayur bayam rebus, 1 buah pear
Malam: 1 Ikat bayam, 1 buah kentang direbus dibuat jadi mashed potato

Day 4:


Menu day 4
Menu ala Chiel:
Pagi: Teh tawar (tanpa gula) + Roti tawar 1 lembar
Siang: 1 butir telur rebus, 1 buah wortel rebus
Malam: pepaya diperasin jeruk lemon

Day 5:
Menu day 5
Menu ala Chiel:
Pagi: Teh tawar (tanpa gula) + Roti tawar 1 lembar (gue sebenernya gak suka banget wortel jadi ganti pakai menu biasa deh)
Siang: 1,5 ons ayam rebus
Malam: 1,8 ons bistik rebus, 1 ikat bayam, selada, lemon

Day 6:
Menu day 7

Menu ala Chiel:
Pagi: Teh manis (pakai gula tropicana sedikit) + Roti tawar 1 lembar
Siang: 1,5 ons ayam rebus, selada, lemon
Malam: 2 butir telur rebus, 1 buah kentang direbus dibuat jadi mashed potato

Day 7:
Menu day 7
Menu ala Chiel:
Pagi: Teh tawar (tanpa gula)
Siang: 1 buah pear
Malam: 2 buah pisang

Menu-menu selanjutnya dan review ada di  Diet Mayo: MENU AND REVIEW (PART 2)
Yuhuuuuuu

Selasa, 20 Januari 2015

Membuat SKCK Baru dan SKBN di Polres Medan

Beberapa hari yang lalu, gue baru mengurus Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dan Surat Keterangan Narkoba (SKBN). Jadi, gue mau ngelamar di suatu perusahaan yang memerlukan surat-surat berharga itu. Ceritanya gue anak rantau yang tinggal di Jakarta beberapa tahun dan KTP gue masih Medan, sementara kalau mau ngurus SKCK itu sedikit ribet (bukan gak bisa ya!!) kalau KTP-nya bukan KTP daerah yang bersangkutan. Biasanya SKCK itu ngurusnya di polsek atau polres daerah tempat tinggal sesuai dengan KTP. Dan akhirnya gue pun harus mudik demi mengurus SKCK sekalian SKBN ini. Dari yang gue baca, searching sama tanya teman-teman, kayaknya mengurus SKCK dan SKBN ini rempong, tapi ternyata tidak begitu, malah cepat banget dan lancar asalkan semua syaratnya sudah dilengkapi.

Nah, waktu itu gue ngurusnya di Polresta Medan. Jadi, buat yang mau ngurus SKCK di Medan, ini nih syarat-syaratnya:
  1. Surat pengantar dari kelurahan
  2. Fotocopy Kartu Keluarga (KK) 1 lembar
  3. Fotocopy KTP 2 lembar (1 untuk daftar SKCK, 1 lagi untuk sidik jari)
  4. Fotocopy Akta Kelahiran 1 lembar
  5. Pas Foto 4x6 2 lembar (1 untuk daftar SKCK, 1 lagi untuk sidik jari dan tidak ada ketentuan untuk warna latar/bebas)
Jadi, prosedur-prosedurnya:
  1. Langsung ke loket pembuatan SKCK, nanti dicek dulu sama mereka syarat-syaratnya sudah lengkap atau belum, kemudian nanti petugas memberikan form lembar data diri untuk diisi (kalau tidak salah ada 3 lembar). Di form itu ada keterangan mengenai keluarga, jadi harus diingat jelas ya, tanggal lahir/umur/pekerjaan anggota keluarganya.
  2. Setelah isi form, pergi ke ruangan tempat sidik jadi (ada di sebelah kiri ruangan pendaftaran ini). Di ruangan ini, kita diserahin form mengenai data diri dan kartu untuk cap sidik jari. Setelah semuanya sudah terisi, semua lembaran tadi diserahkan kepada petugas dan tunggu giliran untuk sidik jari. Habis sidik jari, tunggu aja di panggil sambil siapin fotocopy KTP 1 lembar, pas foto 4x6 1 lembar, form data diri yang pertama tadi diisi, plus siapin uang sebagai biaya administrasi (seikhlasnya aja ya, disini gak ditentukan kok berapanya). Setelah dipanggil, form data diri pertama dan lembaran perumusan sidik jari diberikan kembali kepada kita.
  3. Selesai sidik jari, balik lagi ke tempat pembuatan SKCK. Form data diri pertama dan lembaran perumusan sidik jari serahin ke loket pembuatan SKCK dan disini bayar Rp 20.000. Tinggal tunggu, 5-10 menit kemudian nama dipanggil dan SKCK jadi deh.
  4. Kalau mau legalisir, tinggal fotocopy dan berikan kembali ke loket pembuatan SKCK. Untuk legalisir biayanya RP 1.000 per lembar ya.

Senin, 27 Oktober 2014

Pontianak dan Singkawang, Pintu Pertamaku Menuju Pulau Kalimantan

Melirik kalender dan kemudian menyadari ada tanggal merah di bulan Oktober ini walaupun itu cuma 1 hari dan di hari sabtu pula, aku langsung merencanakan liburan dan kemudian memutuskan untuk pelesir ke kota Pontianak, Kalimantan Barat. Ini pertama kalinya aku ke Pontianak dan pertama kalinya ke tanah Kalimantan. Langsunglah pesan tiket pesawat dan FYI!, harga tiket pesawat Jakarta - Pontianak ratenya itu sekitaran 500 ribuan untuk low season, kalau high season bisa kena sampai 800 atau 900 ribuan.

Naik penerbangan malam, yang tadinya sore kemudian di delay dan akhirnya berangkat malam, perjalanan di udara sekitaran 1,5 jam, akhirnya sampai juga di Bandara International Supadio. Hmm, sedikit di luar ekspektasi. Mungkin karena sudah terbiasa dengan besarnya Bandara Soekarno Hatta, atau besarnya Bandara Kuala Namu atau Bandara Ngurah Rai, Bandara ini kecil. Hehe.

Welcome To Pontianak

Disambut tulisan "Welcome To Pontianak" plus tulisan aksara cina yang membuat aku nyeletuk dalam hati "ohh, pamtesan banyak orang Tionghoa di pesawat tadi, pasti penduduk sini dominan orang Tionghoa" dan ternyata celetukannya betul. Hehe. Setelah bertemu dengan penjemput, kita langsung cari hotel dan akhirnya menginap di Hotel Kini. Begitu pagi tiba, baru nyadar kalau di sekitaran hotel itu tempat hotel itu banyak jualan souvenir sama makanan oleh oleh khas pontianak. Gak mandi, cuma ganti baju sama cuci muka, langsung capcus keliling kota sebentar terus beli oleh-oleh. FYI again, makanan khas pontianak itu banyak yang bersangkutan sama lidah buaya, dodol lidah buaya, manisan lidah buaya, keripik lidah buaya, cokelat lidah buaya, pokoknya lidah buaya lidah buaya. Sambil beli sambil icip-icip, dan makannya enak loh, gak salah deh bawa beginian buat oleh-oleh. Gak lupa juga pilah-pilih kain tenun yang serba khas-khas.

Oleh-oleh yang seabrek
Sebelum ke Kalimantan Barat ini, aku banyak baca cerita referensi tentang Pontianak, tapi yang paling banyak itu cerita tentang panasnya. Waktu aku tanya ke teman-teman yang pernah mengunjungi maupun tinggal dan bekerja disana, semuanya serentak berkata "iya, Pontianak itu panas", Haha. And honestly, mereka benar banget. Memang panas disini, kalau kata orang sih karena pontianak itu daerah yang dilintasi khatulistiwa makanya jadi panas. Mungkin ada benarnya juga ya.

Selesai urusan oleh-oleh, kami melanjutkan perjalanan ke Singkawang. Pontianak ke Singkawang itu kurang lebih 3 jam perjalanan. Di perjalanan kami melewati Tugu Khatulistiwa yang sering dibicarakan orang dan memutuskan mampir sebentar, sebentar saja karena panas banget.


Ditengah jalan menuju Singkawang tepatnya di jalan raya Pontianak - Sungai Pinyuh kami mampir di Pondok Pengkang, yang katanya udah terkenal, lumayan sering diliput dan mmm, masuk siaran televisi (tapi aku sih belum pernah nonton, mungkin pas tayang lagi gak nonton :D). Posisi si pondok ini ada di sebelah kanan (kalau dari Pontianak) dan di tikungan. Pertama kali dengar pengkang, namanya aneh di telinga. sampai-sampai aku harus menanyakan 3 kali ke pelayannya untuk memastikan pengucapan "pengkang"ku sudah benar apa belum. haha. Jadi sebenarnya pengkang ini kalau di masyarakat awan mungkin bisa disebut seperti lemper, hanya saja pengkang ini isiannya pakai ebi. Pengkang di pondok ini disajikan dengan cocolan kerang yang disambal (kurang tau persisi apa nama masakan kerang ini). Dan ternyata rasa si Pengkang ini "endes" alias enak. Buat yang ke Kalimantan Barat ini adalah kuliner wajib coba. 

Pengkang dan cocolan Kerang Sambal
Seorang teman memberitahu sedikit, tentang singkawang. Katanya Singkawang adalah kota wisata Cap Go Meh. Jadi saat perayaan Cap Go Meh ini, semua orang Tionghoa akan berbondong-bondong ke Singkawang. Tidak hanya yang ada di Kalimantan Barat, yang dari luar daerah pun banyak yang kesini. Pernah sekali seorang teman yang kebetulan ada dinas ke Pontianak, tidak kebagian tiket pesawat lagi padahal sudah dari jauh hari di pesan. Seorang teman yang lain bercerita, mulai dari Imlek sampai puncaknya saat perayaan Cap Go Meh , Singkawang tidak tidur. Seakan kota itu tidak mampu menampung banyaknya orang yang berkunjung kesana. Bahkan saat perayaan itu, banyak orang yang rela tidur di depan depan rumah orang lain karena tidak kebagian penginapan. Banyak juga orang yang sangat jauh-jauh hari sudah memesan penginapan di hari Cap Go Meh ini (memesan untuk 1 tahun ke depan).

Berangkat siang dari Pontianak dan sampai di Singkawang sudah sore hari. Sepanjang jalan, dari dalam mobil yang aku tumpangi ini, tak jarang kelihatan kapal-kapal besar yang sedang berlabuh, kalau tidak salah seperti kapal-kapal tanker. Aku bertanya tanya dalam hati apa kapal-kapal sebesar itu tidak kandas ya? Soalnya, kalau di lihat dari sini (mobil) sepertinya jarak dari kapal ke seberang itu dekat. Tapi, kalau kapal itu ada disitu, itu artinya tidak kandas. haha. Selain kapal-kapal tersebut, pemandangan bukit yang silih berganti di kiri dan kanan dan sawah sawah pun menjadi teman yang setia di perjalanan. Di Singkawang inilah ada pantai yang di kelilingi oleh bukit. Setiap kali aku melihat pemandangan alam dimana pun itu, selalu kusempatkan mengucap syukurku kepada Tuhan dan mengagumi betapa semua sempurna di ciptakan-Nya *berdoa*.

Pagi menjelang, bangun dengan kesadaran yang masih dibawah 50% rasanya ingin saja melewatkan sarapan ini, tapi tetap saja aku melangkahkan kaki ke lantai 4 untuk sarapan di restaurant hotel. Begitu di restaurant, kesadaran langsung pulih total. Ohh Tuhan, pemandangan yang sangat indah sudah menanti cantik untuk menemani sarapan kami.

Persis di sebelah kiri kami, ada bukit indah ini yang menemani. rasanya pengen makan disini terus sepanjang hari
Aku kurang tau persis apa nama bukit ini, tapi rasanya bukit ini sangat dekat dengan posisi restaurant ini. Melihat pemandangan sebegitu indah, rasanya ingin makan disini setiap hari saja dan gak mau pindah. Semangat pagi langsung melanda untuk melaksanakan aktivitas hari ini. Segera aku berberes dan check out dari hotel, kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju pantai Pasir Panjang.

Pantai yang benar-benar seperti namanya, pantai pasir panjanggggg

Dan ahh ~~~ itu benar-benar seperti namanya, pasir yaanggg panjang. Tanpa pikir panjang, aku dan kawan-kawan langsung nyebur dan seakan berubah jadi ikan pesut yang berenang kesana dan kesini di air laut. Haha. Di pantai ini ada penginapan buat yang mau menginap, dan fasilitas WC dan tempat bilasnya bersih. Jadi, gak bingung buat mandi dan ganti dimana. Di dekat pantai ini juga sedang dibangun wahana-wahana permainan seperti di Ancol, tapi jelas ini lebih kecil. Sayangnya, waktu yang sempit gak memungkinkan aku buat mengunjungi Pulau Randayan, karena habis dari pantai Pasir panjang, aku dan teman-teman langsung menuju ke bandara Supadio untuk kembali lagi ke Jakarta.
Quality Time
SELFIE
Overall, liburan 3 hari 2 malam di Kota Pontianak dan Singkawang ini sangat berkesan padahal aku baru pertama kali ini menginjakkan kali di pulau Kalimantan apalagi di Pontianak. Pulau Randayan, aku pasti akan mengunjungimu. Perjalanan yang belum selesai ini, pasti akan membawaku kembali ke tempat ini, untuk menikmati keindahan yang lebih lagi.

Rabu, 17 September 2014

Kebaya Pernikahan dan Martumpol (Batak)

Setelah sekilas ngebahas soal gimana ribetnya acara pernikahan gue di Pernikahan Adat Batak, sekarang mau share soal baju atau kebaya. Mulai dari martupol sampai di acara pemberkatan dan resepsi.

> Martumpol (baca: Martuppol)

Martumpol ini seperti pengesahan/penandatanganan persetujuan pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana perkawinan anak-anak mereka di hadapan pejabat Gereja. Untuk acara ini, kita pakai nuansa ungu/lila, baik kebaya maupun kemeja laki-laki.






Pemberkatan, Resepsi dan Adat

Di pemberkatan, resepsi dan adat, baik dekorasi, kebaya dan kemeja, didominasi banget sama nuansa biru dicampur dengan warna gold dan putih. Nyokap dan mertua juga pakai biru, tapi untuk seragam adik-adik pakai seragam warna pink magenta.